Finance

Serba-serbi Fintech Lending

Belakangan, teknologi keuangan atau financial technologi (fintech) peer to peer lending (P2P) menjadi trend di masyarakat, terutama di kalangan masyarakat yang menjadi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Fintech lending sendiri merupakan inovasi dari layanan jasa keuangan, sebuah teknologi yang memberikan akses pembiayaan dengan cara online, yang menggantikan cara pembiayaan yang bertele-tele.

Rabu, 24 April kemarin, bertempat di Balaikota Semarang, saya berkesempatan hadir di acara Ngobrol @Tempo yang mengangkat tema serupa, yaitu tentang Manfaat Ekonomi Fintech Lending. Acara ini diadakan oleh Tempo Media Group yang bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan didukung oleh Pemerintah Kota Semarang, Pinjam Yuk, dan Adakita. Peserta yang hadir pun beragam, seperti mahasiswa, blogger, dan para pelaku bisnis atau wirausaha.

Acara yang dimoderatori oleh Direktur Tempo.co Tomi Aryanto ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Rati Connie Foda (Deputi Direktur Perizinan dan Pengawasan Fintech), Litani Satyawati (Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang), dan Andi Taufan (CEO Amartha).

Rati Connie Foda menyampaikan bahwa sampai saat ini fintech lending menunjukkan peningkatan yang sangat baik, hal itu terjadi karena fintech lending sangat membantu para pelaku usaha dalam mengembangkan produktifitas usaha mereka.

Hingga April 2019 ini, perusahaan fintech yang terdaftar dan berizin di OJK mencapai 106 perusahaan yang terdiri dari 103 perusahaan konvensional dan 3 perusahaan syariah dengan status lokal 74 dan 32 Penanaman Modal Asing (PMA).

Secara elektronik, fintech lending dapat terintegrasi dengan e-commerce, e-logistic, dan agregator serta berkolaborasi dengan 12 kategori layanan pendukung lainnya untuk memberikan layanan yang semakin aman, cepat dan mudah bagi penggunanya.

Fintench lending dibagi menjadi tiga kategori sistem, yaitu:

  1. Ekosistem Tertutup, diberikan khusus kepada pihak-pihak tertentu. Seperti fintech Tokomodal yang memberikan fasilitas pinjaman bagi warung binaan Alfamart agar dapat meningkatkan penjualannya.
  2. Ekosistem Terbuka Terbatas, yang memberikan pinjaman dengan jaminan. Fintech lending ini diberikan khusus untuk UMKM atau industri kreatif dengan dukungan dari OJK untuk memberikan pinjaman. Seperti Amartha, partner terpercaya untuk terhubung dengan pengusaha mikro.
  3. Ekosistem Terbuka Tanpa Batas, memberikan pinjaman tanpa agunan dan bunganya lebih tinggi. Fintech lending ini dapat digunakan oleh siapa pun, biasanya untuk keperluan mendesak atau untuk konsumtif saja.

Potensi Fintech Lending
Menurut POJK 77/2016, fintech lending dapat berkolaborasi baik dalam mendukung program pemerintah; kerjasama dengan Industri Jasa Keuangan (IJK) seperti perbankan, pasar modal, perusahaan pembiayaan, asuransi, BUMDes/BUMADes, serta lembaga donor.

Dengan potensi kolaborasi yang ada, tentu saja hal tersebut juga menjadi hawa segar bagi pelaku UMKM, terbukti dengan meningkatnya akumulasi jumlah pinjaman yang mencapai 46,48 persen sebesar Rp33,20 triliun.

Kontribusi Fintech Lending
Fintech Lending telah memberikan kontribusi pada pembangunan ekonomi Indonesia selama dua tahun terakhir berupa GDP (Gross Domestic Product) sebesar Rp25,97triliun. Rati Connie juga mengatakan bahwa kontribusi tersebut berhasil menyerap 215.433 tenaga kerja. Kontribusi lainnya adalah menambah pendapatan (upah dan gaji), meningkatkan penyaluran kredit khususnya ke sektor UMKM, serta menstimulus pertumbuhan perbankan, perusahaan pembiayaan dan ICT.

Litani Satyawati mengatakan bahwa fintech lending ini merupakan perkembangan dari sebuah teknologi, di mana yang biasanya bertransaksi harus bertatap muka dan membawa sejumlah uang, kini bisa dilakukan dengan jarak jauh tanpa memakan banyak waktu.

Pada kesempatan itu juga, Litani mengajak para pelaku UMKM yang hadir di acara tersebut untuk beralih menggunakan fintech. Para pelaku UMKM diminta untuk mengapdet cara pandang mereka agar lebih melek dengan teknologi keuangan. Litani berpendapat, fintech dapat dijadikan salah satu solusi dalam mencari akses pendanaan yang cepat.

Oleh Andi Taufan, Amartha diperkenalkan sebagai salah satu lembaga fintech yang juga terdaftar di OJK dan telah membantu beberapa UMKM di pelosok.

Lebih dari 68juta usaha mikro di daerah pedesaan tidak dapat mengakses modal dari bank, lebih dari setengahnya adalah perempuan. Sebab itu, Amartha memanfaatkan fintech untuk memberdayakan para perempuan yang menjadi pengusaha mikro di desa-desa.


25 thoughts on “Serba-serbi Fintech Lending

  1. Jadi lumayan tercerahkan ya soal Fintech Lending. Tadinya awam banget soal ini, dan sempat takut bersentuhan dengan yang namanya pinjaman online. Sekarang nggak perlu ragu ya cari tahu di OJK apakah Fintech Lending terdaftar atau engga

  2. Semoga fintech lending ini makin bermanfaat dan membantu para pelaku UMKM agar mereka bisa survive dengan modal yang dipinjam. Bener banget ya, harus ekstra hati-hati dan teliti dengan kemudahan yang ada

  3. Kemajuan teknologi emang bisa dimanfaatin untuk berbagai bidang ya, termasuk soal keuangan. Kalo dulu jadi UMKM susah banget untuk cari tambahan modal, sekarang bisa banget dengan bantuan teknologi. Tentunya milih fintech yg diawasi OJK ya.

  4. Mantap juga Amartha dengan tujuan meminjamkan dana untuk UMKM dan petani sebagai modal usaha, semoga usahanya lancar dan mereka bisa terus membantu banyak orang..jadi makin paham fintech berkat acara ini..bahagianya jadi blogger ya

  5. Amartha ini fintech lending yang udah membantu banyak pemilik UMKM ya, aku baru tahu loh ketika ikut event kemarin itu. Semoga yang dibantu permodalannya juga bisa mengelola keuangan mereka. Jadi pembayaran tagihan pun lancar jaya

  6. Ini acara yg bagus ya.. Semoga masyarakat semakin tersosialisasi bahwa fintech P2P itu tidak semua legal, agar masyarakat dapat memilih dengan baik dan tidak dikecewakan / dirugikan karena salah pilih.

  7. Bagi para pengusaha UMKM, kehadiran fintech lending ini amat membantu ya terkait support modal. Soalnya kalau ngajuin ke bank memang rada ribet dan susah lolosnya.
    Hanya saja perlu ketelitian untuk memilih fintech lending yang sudah terdaftar di OJK agar nanti ke depannya tidak terjadi permasalahan yang serius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *