Saling Membahagiakan

Pada akhirnya, aku menyerah. Menyerah untuk menyimpan cerita ini lebih lama lagi. Maka, di pagi yang masih diguyur hujan semalaman ini, kucatatkan sedikit tentang kisah. Tentang senja yang menggantung di langit mendung. Tentang hilir mudik kapal terbang yang melintas di atas pantai tanpa karang. Tentang kemesraan yang semoga tak kita lupakan. Tentang kenyamanan yang kuharap bukan sekadar figuran. Atau tentang apa pun yang sempat kubaca pada tulisanmu di sebuah status medsos.


Kemudian, apa? Aku tidak tahu. Terkadang, ada hal-hal tertentu yang tak mampu untuk kutuliskan. Tak sanggup untuk kukatakan. Seperti hening sore itu. Diammu. Diamku. Barangkali riuh justru terkepung di hati serta pikiran kita masing-masing, kan? Hingga diam-diam hadir si penyusup. Penyusup itu adalah mereka; hangat yang keparat, damai yang tak tahu diri, juga gelak tawa dari iblis-iblis yang bengis. Maaf untuk semua itu.

‘Andai’ yang kamu ingin sempat kusemogakan agar tak jadi wacana saja. Barangkali Tuhan berbaik hati untuk kita berceloteh lebih banyak dan lebih lama lagi. Akan ada secangkir kopi di sana. Mungkin dua cangkir kopi? Atau juga tiga cangkir kopi? Terserah saja berapa banyak yang ingin kamu pesan. Aku akan betah berlama-lama bersamamu.

____________________

Subuh tadi, aku merasa dibangunkan oleh rasa takut. Rasa takut yang banyak sekali. Bukan takut kehilanganmu, karena aku tahu, kehilanganmu pasti terjadi. Aku takut ada sesuatu yang membuat kita berjarak suatu hari nanti. Seperti … (mungkin) perasaan yang berlebihan. Maka, untuk menghindari itu, berhentilah berasumsi bahwa aku ingin memilikimu lebih dari seorang teman, berhentilah beranggapan bahwa aku memintamu untuk memilih satu diantara dua (kalau kamu benar-benar berasumsi dan beranggapan demikian), berhentilah.

Aku ingin kamu berhenti membandingkanku dengan dia yang kamu punya sekarang. Biarlah kamu mengenalnya dengan kelebihan yang dia miliki dan mengenalku dengan kekurangan yang aku miliki. Biarlah kamu dan Tuhan saja yang tahu. Tidak denganku, pun dia. Tetaplah saling membahagiakan di antara kita. Meski kata ‘bersama’ sebatas mimpi semata.


Semarang kala itu,
ketika pagi masih begitu basah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *