Human

Office Boy

office boy – canva

OFFICE BOY – Sebagian orang menganggap ini adalah akhir. Tapi bagiku, ini adalah awal untuk memulai lagi dari nol. Entah nol dalam artian apa. Tidak ada lagi kulihat mas-mas office boy menyapu-mengepel ruangan, membersihkan meja-meja kerja para staf, meletakkan minuman dari meja satu ke meja lainnya. Bercandaan dengan rekan sesama, hingga hari beranjak agak siang, mereka mulai terlihat semakin sibuk.

Tidak ada yang hilang, justru rasanya begitu lega. Entah lega yang seperti apa. Akhirnya aku angkat kaki. Kalo kata security samping, “bendera putih telah dikibarkan!” Anjayyy.., nggak gitu, woy! Hmmm, kembali ke mas-mas office boy saja. Btw, kok aku jadi cerita mas-mas office boy, ya?

Satu hari yang membosankan, tidak ada yang ingin kulakukan selain pergi ke toilet. Sengaja aku lama-lamakan cuma untuk menghilangkan rasa bosan. Aneh, ya. Ha-ha-ha. Kalau sudah bosan di toilet, keluar lagi.

Aku melihat mas-mas office boy di pantry sedang membuat kopi.
“Wah, enak ni ngopi,” kataku.
“Bukan buat saya, Mbak, buat Bapak.”
“Mbak Isna mau? Kalo mau, besok bawa kopi sendiri, ya.”
“Dibikinin, mas?”
“Ya bikin sendiri.”
“Hoalah, baiklahhh.” Kami tertawa.

“Mbak suka ngopi.”
“Suka, mas. Kecanduan aku tuh.”
“Sehari bisa berapa cangkir?”
“Tiga samapi lima cangkir, Mas.”
“Sama berarti. Bahkan bisa lebih.”
“Kalo gitu, kapan-kapan ngopi bareng kalik, ya?”
Mas-mas office boy tertawa. Padahal, kalau dia meng-iyakan, aku ayo saja.

Di lain hari yang sama membosankannya, aku melakukan hal yang sama. Kali itu, aku melihat mas-mas office boy sedang membuat kopi, tentu saja buat Bapak. Entah bagaimana ceritanya, kopinya tumpah. Niatnya mau kusamperin, tapi melihat mimik wajahnya, aku urung. Wajah yang begitu lelah.

Dia gugup. Bingung, antara mau membersihkan tumpahan kopi atau segera mengganti kopi baru untuk Bapak. Wajahnya capek sekali. Akhirnya secepat kilat dia membuat kopi baru, kemudian diantarkan ke ruangan Bapak, dan kembali lagi membersihkan tumpahan kopi tadi.
_______________________________

Mas-mas office boy tidur di meja, di ruangannya. Rasa lelah masih menggantung di wajahnya. Aku sedang mencuci tempat makanku -yang terlihat aneh oleh staf lain karena mencuci tempat makan sendiri-. Karena ruangan mas-mas office boy berhadapan langsung dengan pantry, kemungkinan dia terbangun karena suaraku yang berisik.

“Mbak, nggak usah dicuci, biar ntar saya yang cuciin. Udah biasa kok. Udah-udah, mbak balik kerja lagi aja.”
“Kebangun ya, Mas? Suaraku berisik ya? Maapin ya.”
“Nggak apa-apa, Mbak. Ketiduran. Capek banget rasanya hari ini. Udah, biar di situ aja, ntar biar saya cucikan.”
“Udah, Mas. Tinggal ngeringin aja ini.”
“Besok-besok taruh aja, Mbak. Yang lain juga gitu, kok.”
“Heeee, iya-iya, Mas.” Dalam hati, yo maap, kulina ning omah isah-isah >,<

“Lanjut tidur aja, Mas.”
“Saya mau dhuhuran dulu, Mbak, terus nyari makan.”

Aku pun juga ingat belum melaksanakan kewajiban.
____________________________________________________

Di kantor, setiap kepala punya tanggung jawab masing-masing. Punya cara masing-masing untuk menghilangkan rasa bosan karena pekerjaan. Juga, punya beban tersendiri atas pekerjaannya.

Aku tidak pernah tahu, beban kerja seperti apa yang ditanggung oleh seorang office boy. Para staf, para atasan, dan semua yang terlibat di ruangan sana.

Tidak berlaku, halah gitu aja capek! Ya, tiap individu punya keterbatasan dan kelebihan masing-masing. Juga, mulutnya masing-masing.

Smg, satu Februari.
tiba-tiba kebayang muka capeknya mas-mas office boy.
Semoga sehat dan bergembira selalu!

4 thoughts on “Office Boy

  1. Jadi ingat dulu di kantor lama, sering menyempatkan diri untuk ngobrol sama para Office Boy. Tidak hanya satu orang, tpi ngobrol rame2 di pantry.
    Kadang dengerin keluh kesah mereka. Karena sering ngobrol, akhirnya akrab sampai akhirnya aku pindah tempat kerja 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *