Kita dalam Persepsi Orang Lain

Dia datang sepuluh menit setelah secangkir kopi pesananku tiba di meja. Dari tempat parkir, dia terlihat begitu tergesa. Aku belum juga bisa menebak, hal penting apa yang membuat dia menelpon dan memintaku datang ke kedai -kedai kopi penuh kenangan– ini.

“Kenapa?” tanyaku.
“Kesel banget aku sama Si A. Masa aku dibilang….,” satu kalimat, dua kalimat, dan kalimat-kalimat selanjutnya begitu memekakkan telingaku.
“Terus?”
“Ya aku kan nggak kayak yang dia bilang,” suaranya mereda.
“Kalo emang nggak kayak yang dia bilang, ngapain kesel segala? Semakin lu kesel, orang bakal ngira kalo omongan-omongan itu emang bener adanya, dan lu cuma berusaha buat nutupin.”

Hening.

—-

Akhirnya kami menyudahi pertemuan hari ini. Pertemuan dengan obrolan yang penting. Hehehe. Setidaknya ada poin yang bisa kami simpulkan, bahwa:

Diri kita, di setiap pandangan orang lain akan mendapati persepsi yang berbeda-beda. Sebab itu, berhentilah bersusah payah demi terlihat baik di mata orang lain. Percuma~

Orang lain yang tidak mengenalmu memiliki penilaian berbeda dengan orang yang mengenalmu. Orang yang sekadar mengenalmu juga memiliki penilaian yang berbeda dengan orang dekat yang memahamimu. Begitu seterusnya.

Sampai akhirnya, kita punya nilai tersendiri di mata orang-orang yang tidak mengenal kita, di mata orang-orang yang mengenal kita, yang membenci kita, yang mencintai kita, yang memahami kita, yang iri dengan kita. Banyak persepsiii.

Jadi, tetap jadi versi terbaik dari dirimu, ya!

Akhir pekan, Juni 2019
di Kedai Penuh Kenangan.

8 thoughts on “Kita dalam Persepsi Orang Lain”

  1. Agung Yulianto berkata:

    yakin bisa cuek dengan hujatan meskipun itu gak sesuai kenyataan?
    sekali dua kali sih mungkin bisa ya cuek, selanjutnya?

    1. adindanenii berkata:

      Yakin. Lama-lama juga yang ngehujat bakal capek sendiri karena kita nggak nanggepin. Hoho

      1. Agung Yulianto berkata:

        berasa sinetron ya, yg menghujat bakal kena azab, hahhaa

        1. adindanenii berkata:

          Iya. Bukan nggak mungkin ide sinetron itu
          terinspirasi dari kehidupan nyata juga, kan? hoho

  2. zaki berkata:

    Sebuah pemikiran yang menarik, saya sih bodo amat sama yang dipikirin orang.
    Oh iya mbak, kalau mau baca seputar fotografi silakan mampir ke blog saya ya.

    1. adindanenii berkata:

      Ya, saya masih belum bisa sebodoamat gitu loh, Mas.
      Hahaha. Btw, makasi udah mampir 😀

      1. Agung Yulianto berkata:

        menurut penulis, seberapa penting kita mendengarkan persepsi orang tentang kita???
        Banyak orang yg bilang jadilah dirimu sendiri, begitu kita menjadi apa adanya kita, ternyata mereka menghujat, mencela dan sebagainya

        1. adindanenii berkata:

          Penting nggak penting menurutku, Mas.
          Hujatan, celaan dan sebagainya itu kita tampung aja dulu,
          balikin ke diri sendiri, kalo bener adanya, jadiin bahan buat kita intropeksi.
          Kalo emang enggak, bisa kita cuekin aja kalik ya. hehe
          Kalo menurut Mas Agung sendiri, gimana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *