Beauty & Kesehatan

Berburu Lipstik Wardah

Liburan semester telah usai. Ia sudah menduga bakal menjadi buah bibir oleh seisi gedung ekonomi. Dirinya, lebih tepat lagi; bibirnya, telah menarik perhatian teman-teman di kampusnya. Foto-foto bibir yang memenuhi feed instagramnya selama liburan kemarin menimbulkan banyak tanya.

Hari-hari sebelum itu, ia dijuluki sebagai perempuan natural yang sama sekali tidak tersentuh oleh make-up. Ia pendiam dan dipandang aneh, sebab itu tidak seorang pun ingin berteman dengannya. Tapi sekarang, ia seperti memiliki daya magnet, menarik setiap orang untuk melihat dirinya yang telah berubah.

Ialah lipstik mencolok di bibirnya yang mengundang banyak mata. Bukan hanya mata para lelaki, tetapi juga mata para perempuan. Jelas saja para lelaki ini jatuh hati atas perubahan yang dibuatnya. Namun berbeda dengan para perempuan ini, mereka penasaran dengan lipstik yang melekat di bibirnya. Cocok sekali. Manis dilihat. Mencolok yang elegan. Tidak pasaran. Mereka iri dan ingin tau lipstik apa yang ia pakai.

Lipstik Wardah! Lipstik Wardah! Lipstik Wardah! Mereka menggunjing demikian. Lantas berburu lipstik Wardah. Mencoba menyamakan dengan warna-warna lipstik Wardah yang cocok untuk bibir mereka. Dan hasilnya nihil. Mereka semakin penasaran, menebak-nebak sendiri.

Lambat laun para perempuan itu menurunkan rasa gengsi mereka demi mendapatkan lipstik Wardah. Ia pun tak menduga jika akhirnya ia memiliki banyak teman dan tidak lagi dipandang aneh. Justru ia menjadi patokan teman-temannya untuk rekomendasi make-up.

Kehidupannya berubah sejak lipstik yang ia pakai digandrungi banyak orang. Ia merasa teman-temannya hanya menginginkan sesuatu darinya, berburu lipstik yang ia pakai. Ia tetap bungkam lipstik apa yang ia pakai, di toko mana ia beli.

Luruh juga rasa nyamannya. Ia ingin kembali seperti semula, perempuan tanpa make-up yang dipandang aneh. Daripada banyak teman dengan segala maksud dan tujuan lain. Terganggu juga ia dengan hal sesederhana itu.

“Kalian seperti sedang memburuku. Mau lipstik yang ada di bibirku ini?” ucap ia, akhirnya. Spontan saja teman-temannya mengangguk bersemangat.

Ia mengeluarkan kotak make-up dan memberikannya kepada teman-temannya. Sekotak lipstik tanpa merk yang diramu sendiri oleh seorang perempuan aneh yang lebih nyaman berpenampilan natural.

Ia, perempuan bernama Wardah meninggalkan teman-temannya dengan hati yang lega.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *