Cerpen

Baju Tunik untuk Ibu

Azan magrib masih satu jam lagi, tetapi semua menu buka puasa sudah tertata rapi di meja makan. Di luar hujan, aku dan ibu bermalas-malasan di sofa ruang keluarga sembari menanti waktu berbuka puasa.

Tidak ada siapa pun di rumah selain aku dan ibu. Biasanya ibu memintaku untuk membuka-buka toko baju online dari telepon genggamku, sekadar cuci mata kata ibu. Aku selalu menuruti dan turut melihat-lihat.

“Ini bagus, ya? Lagi trend ini, warnanya juga favorit ibu,” kata Ibu menunjuk baju tunik warna pastel.

“Ibu mau? Aku belikan, ya,” tawarku. Meski begitu, aku tau jawaban apa yang akan Ibu katakan padaku.

Baju tunik memang sedang trend. Baju yang berukuran lebar dan tidak membentuk tubuh ini menjadi outfit favorit untuk semua kalangan. Baju tunik ini bisa memakai lengan, bisa juga tanpa lengan. Namun memiliki panjang sampai ke lutut atau hanya sampai pinggul.

“Nanti saja. Uangmu buat kebutuhanmu dulu aja,” kata Ibu serempak dengan kumandang azan magrib.

***

Hari berulang. Waktu melambat seiring jarum jam mendekati azan magrib. Masih sama dengan hari-hari kemarin, ibu dan aku menghabiskan sisa waktu dengan membuka-buka toko baju online.

Kali ini aku tergugah untuk lebih mengamati ekspresi ibu. Lagi-lagi mata ibu tertahan lama di baju tunik warna pastel yang tempo hari dilihatnya. Seperti ada rasa ingin, tetapi ditahan. Begitulah ibu, tidak mau merepotkan siapa pun.

Diam-diam aku memesan tunik pastel yang selalu diperhatikan Ibu. Pasti bakalan cantik banget kalau dipakai Ibu. Ya, sebenarnya– selama ini, sebagai anak aku hanya perlu peka dengan apa yang menjadi keinginan ibu. Sebab, tidak selalu keinginan seorang ibu disampaikan kepada anak-anaknya, takut merepotkan dan tidak enak hati. Hmmm, tapi mungkin tidak juga kalau keinginan itu berupa seorang menantu.

***

Pesanan datang, kebetulan Ibu yang menerimanya. Ibu langsung membukanya. Tertera di bingkisan itu untuk Ibu. Ibu memakainya.

Tok…. Tok…. Tok….

Ibu mengetuk pintu kamarku. Ketika kubukakan pintu, Ibu sudah mengenakan baju tunik pastel yang baru saja beliau terima. Cantik sekali.

“Terima kasih, Nak,” katanya berlinang.

Ah, Ibu. Bahkan itu tidak ada apa-panya dibandingkan dengan seluruh kasih dan segala upayamu untuk membahagiakanku.

—————————————————————

4 thoughts on “Baju Tunik untuk Ibu

  1. Bener tuh mbak, orang tua kalo ada kepengenan pasti bilangnya “gak usah…gak perlu…sayang uangnya” padahal perlu dan pengen heheh tapi gak enakan minta sama anak.

    Padahal kita sebagai anak ya akan berusaha sebisa mungkin untuk memenuhi keinginan dan keperluan ortu yaa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *