Buku

Arakundoe: Sebuah Tragedi dan Cerita Sendu Lainnya

Membaca judul buku kumpulan puisi Arakundoe karya Pilo Poly, penyair asal Pidie Jaya, Aceh ini membuat saya penasaran. Jujur saja, sempat muncul pertanyaan, apa itu Arakundoe? Tetapi, setelah mendapatkan sedikit bocoran dari si penulis, barulah saya tau.

Arakundoe

Yang tak berhenti,
adalah bunyi suara malam di Arakundoe.
Malam keluar dari dirinya sendiri, ingin
Menjelma menjadi yang lain,
yang mampu menenangkan
Betapa risaunya magrib menyambut kengerian

Sungai-sungai,
juga buru-buru keluar dari ceruk lumpur,
tempat aduh dan derajat mengalir tanpa ditebus,
tanpa dimandikan takbir dan doa kepergian,
sebagai syarat seseorang telah tiba pada kata selesai,
dan berhenti membenci rasa sakit demi sakit

tak ada yang tahu, apakah kata-kata biak
sebelum daftar diserahkan. Daftar nama-nama
yang akan naik ke langit. Tempat seluruh
hajad terakhir dihidangkan.

JAKARTA, 2018

Ya, Arakundoe atau tragedi berdarah Arakundoe merupakan sebuah tragedi pembantaian sipil yang dilakukan oleh aparat keamanan. Tragedi ini terjadi pada tanggal 4 februari 1999 di Idi Cut, Aceh yang menewaskan tujuh orang dan melukai ratusan orang lainnya. Jenazah para korban tersebut dibuang ke sungai Arakundoe.

Membaca puisi di atas saya turut merasakan bagaimana mengerikannya situasi di sana kala itu. Pilo berhasil membangun bayangan konflik yang terjadi di kepala saya.

Tidak hanya tragedi tentang Aceh, cerita lainnya juga terangkum dalam album puisi yang terbit di akhir tahun 2018 ini dan dipenuhi dengan 45 judul puisi lainnya. Pilo bercerita perihal cinta juga perjalanan refleksi diri.

Seperti penggalan puisi berjudul UGH! di bawah ini, bagaimana Pilo mengekspresikan diri ketika jatuh cinta, namun begitu akrab dengan rasa kesepian.

jatuh cinta padamu,
aku diserang asma.
sesak jiwa dan raga.
sebab rindu yang menggunung ini,
begitu dingin seperti curug sawer, beku
dan begitu kesepian

Menuju penutupan album puisi Arakundoe, Pilo seolah mengajak pembaca untuk sejenak merefleksikan diri melalui puisinya yang berjudul Dan Jika Kemudian. Sedikit cuplikannya:

“Jika kemauan adalah mesin cita-cita,
maka geladak kapal adalah diri sendiri.
Tempat melawan pikiran dan kemiskinan.
Maka perantauan adalah pabrik.
Tempat di mana kebahagiaan dibungkus
dengan sederhana,” kata dia.

“dan jika Dia mendatangkan kebaikan
kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.”

Secara keseluruhan, saya menikmati sekali puisi-puisi Pilo di Arakundoe ini. Bahasa yang sederhana, permainan kata yang ringan membuat saya betah membaca Arakundoe sampai pada halaman terakhir.

Kalau kamu penasaran dan tertarik juga buat baca Arakundoe, kamu bisa langsung hubungi penulisnya lewat DM instagram Pilo_poly.


Judul: Arakundoe
Penulis: Pilo Poly
Penerbit: Jeda, Kab. Bogor
Cetakan: I, 2018
Tebal: vi+68 halaman
ISBN: 978-602-489-218-0

34 thoughts on “Arakundoe: Sebuah Tragedi dan Cerita Sendu Lainnya

  1. Udah lama nggak menikmati puisi… ๐Ÿ˜€

    Aku baru tahu, Mbak tentang Arakundoe, ternyata mengerikan banget ya tragedinya ๐Ÿ™ kebayang trauma dan luka yang dialami mereka yang selamat dan keluarganya ๐Ÿ™

  2. Aaaah puisinyaaa. Aku waktu sekolah sering banget ikutan lomba baca puisi, loh. Waktu masih ngajar di SD juga ngajari anak-anak baca puisi, tapi sekarang udah jarang banget baca puisi atau buku kumpulan puisi. Aaah…rindunyaaa

  3. Ternyata ada latar belakang sejarah kelam ya di puisi Arakundoe. Para penulis puisi ini pintar sekali menautkan kata-kata sehingga menjadi puisi yang cantik. Aku sendiri terus terang kurang bisa menikmati puisi, lebih suka narasi yang dipaparkan oleh penulisnya heheee.. Rada berat memang mengolah puisi bagi yang tidak terbiasa sepertiku ini.

  4. Wah, udah lama nggak baca puisi. Cantik juga puisi yg tertulis di post ini.
    Aku sendiri lebih menikmati baca narasi dibanding puisi, jadi aku lebih menikmati penjelasan puisinya. Hehe.

  5. Wah kalau baca kumpulan puisi begini jadi inget jaman kuliah dulu ada matakuliah puisi dan harus menginterpretasikan isi puisi. Baca puisi Pilo Poly tadi isinya mengena banget menggambarkan situasi di masa lalu yang kelam..

    1. Masih banyak puisi keren lainnya, mbak, di buku Arakondoe. yok, beli. wkwkwk
      Hmm, bukan nggak bisa, mbak, belum biasa aja mungkin. Coba bikin lagi, barangkali ntar jadi buku bestseller. hihi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *